Di Abbalove Ministries, setiap pasangan yang akan menikah, pasti akan melakukan konseling akhir, sebelum mereka melakukan pernikahan mereka, kami pun melakukan hal yang sama.
Dengan Gembala Pernikahan
Senin,4 Juni 2007 jam 19.00 wib bertempat di Speed Plaza, Abbalove Ministries, saya dan Lyly melakukan konseling akhir dengan Mas Budhi Cahyono, yang nantinya akan bertindak sebagai gembala pernikahan kami.
Berbagai hal ditanyakan sehubungan dengan hubungan kami berdua, latar belakang keluarga, cara perkenalan, kapan mulai jadian, visi dari pernikahan kami dan lain-lain.
Lewat konseling akhir dengan Gembala Pernikahan ini, beliau akan lebih mengenal setiap pribadi kita, dan diharapkan pada saat hari H dapat menyampaikan firman Tuhan sesuai dengan yang dibutuhkan saat itu.
Satu hal yang menarik, saat pertanyaan tentang visi keluarga kami nantinya, ternyata visi yang sedang kami gumulkan bersama-sama denga rekan-rekan lainnya, ternyata berkaitan juga dengan yang sedang dilakukan oleh Mas Budhi ini lewat pekerjaannya, yakni membantu anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi untuk bisa tetap mendapatkan pendidikan (baik lewat donasi ke anak-anak maupun membangun sekolah), akhirnya kurang lebih 20-30 menit kami habiskan ngobrolin hal ini, dan berjanji untuk ketemuan lagi bersama rekan-rekan lainnya membahas hal ini lebih lanjut, tentunya setelah pernikahan kami. Kami berdua setelah konseling akhir, saya berantusias ternyata Tuhan mulai bukain dan pertemuin satu persatu dengan orang-orang yg mempunyai beban dan visi yang sama, untuk membantu anak-anak yang tidak mampu secara ekonomi, tetapi mempunyai skill dan intellectual yang ok. Saat perjalanan pulang, ternyata dari awal memang kami sudah diberi beban itu, Lyly sendiri dari kecil senang sekali mengumpulkan anak-anak di sekitar rumahnya, dan mengajar mereka seolah-olah seperti guru, sedangkan saya sendiri juga punya cita-cita ingin suatu saat ingin membangun sekolah untuk anak-anak kurang mampu, terilhami dari apa yang dialami oleh sepupuku, yang secara skill dan intellectual ok, namun tidak bisa melanjutkan kuliah karena keadaan ekonomi yg kurang mampu. Maka sejak mendapat kesempatan menjadi Satgas Penerimaan Mahasiswa Baru, hal ini selalu saya ingatkan kepada mahasiswa baru yang saya bimbing waktu itu.
Dengan PKS BPN
Selasa, 5 Juni 2007 jam 20.30 wib bertempat di Citra 5, rumah pembina PKS BPN kami, Ko Timotius Hong dan Ci Lily. Konseling akhir dengan PKS BPN ini merupakan salah satu sessi yang sangat berharga dalam hidupku, karena ternyata lewat malam itu, gua dan pasangan bisa saling tahu lebih dalam, terutama mengenai penyebab kenapa kadang-kadang kita, terutama dalam 2 bulan terakhir ini mudah sekali mis-communication dan bertengkar. Sebelum ke rumah PKS BPN kami, kami sempat bersitegang dan berbeda pendapat mengenai kejadian sebelumnya, yakni saat petugas dari Carefour mengantar lemari es yang kami pesan. Sebelumnya saya sudah pesan, bahwa minta barang diantar diatas jam 9 malam, karna saya tahu bahwa diatas jam segitu saya baru ada di rumah, tapi ternyata orang carefour yang ada datang lebih awal, yakni sekitar 6-an trus setelah tunggu sekian lama, mereka menelpon saya dan tanya kok ga ada orang di apartemen, trus saya bilang kan udah dibilangin minta diantar jam 9 malam, pasti ga ada orang di rumah, kebetulan saya lagi on the way pulang ke apartemen, karena ada teman komsel (Aling dan Susan) yang mau bantuin untuk bungkus kado untuk papa & Mama pas pemberkatan nantinya, setelah sampai di apartemen, orang carefournya bilang bahwa lemari es nya ga bisa dinaikin…., terang aja saya sewot, trus saya bilang saya ga mau tau kan sudah saya ngomongin waktu beli, bahwa diantar di lantai 3. pokoknya saya mau lemari es dinaikin, orang yg mengantar pun minta telpon ke carefour, trus saya telpon, disinilah terjadi perbedaan pendapat kami, menurut Lyly saya ga boleh arogan begitu, tetapi di satu sisi saya merasa, saya sudah bayar, dan mereka mesti naikin walaupun pake tangga, akhirnya setelah telpon dan ngomong akhirnya lemari es yang dipesan pun dinaikin ke atas.
Lewat kejadian ini, ternyata Tuhan menyingkapkan banyak hal yang selama ini mungkin banyak persepsi saya dan Lyly yang salah, beruntung kami mempunyai pembina BPN seperti Ko Timotius Hong dan Ci Lily, lewat kesaksian hidup mereka, gua dan Lyly benar-benar belajar, bahwa konflik boleh ada, tapi yang perlu kita fokuskan adalah akar dari timbulnya masalah tersebut, dan akhirnya kami sepakat untuk terus belajar, dan mau nanti lewat keluarga yang kami bentuk bisa menjadi berkat buat banyak orang/keluarga lainnya.