Hotel-Hotel Di Garut
Hotel Sumber AlamSetelah menikmati udara segar dan suasana di Candi Cangkuang, perjalanan kami dilanjutkan dengan melihat hotel-hotel di daerah sekitar jalan Raya Cipanas – Garut. Kami sempat mampir ke Hotel Tirta Ganggang dan Sumber Alam, di ke-2 tempat ini kami banyak menemukan flat kendaraan D (Bandung), ternyata orang Bandung memilih berwisata dan nginap di daerah Garut, sedangkan kota Bandung sendiri ramai diserbu oleh orang-orang dari Jakarta. Hehehe, sesuatu hal yang unik juga :) Setelah melihat fasilitas dan kamar di ke-2 hotel tersebut, yang lumayan bagus, kami pun melanjutkan perjalanan kami kembali, waktu sudah menunjukkan kurang lebih jam 14.30 wib, dan perut kami pun sudah minta diisi dengan makanan,karna sepanjang perjalanan dari Jakarta, praktis kami hanya makan cemilan yang kami bawa. Ehm…. mau makan di mana ya ? ehmm bingung juga, setelah melihat beberapa tempat makanan yang kami lalui, akhirnya kami putuskan untuk makan siang di Kampung Sampireun, setelah mendapatkan referensi dari salah satu rekan kami yg pernah makan di sana sebelumnya, thank you Gerry dan Lie Se. Akhirnya kami pun segera berangkat menuju Kampung Sampiren.

Kampung Sampiren
Kampung Sampiren tentulah bukan tempat yang asing lagi, karena tempat ini banyak sekali dipakai oleh calon pengantin sebagai lokasi foto outdoor maupun tempat untuk honeymoon, serta bagi keluarga sebagai salah satu tempat untuk liburan keluarga.
Kampung Sampiren ini terletak di desa Sukakarya, 10 km di Selatan Garut. Untuk mencapainya kita perlu melewati jalan desa yang sempit, berpenduduk lumayan padat, dengan banyak sekali polisi tidur. Buat yang pertama kali ke tempat ini, setelah beberapa kilometer, kita pasti merasa tak yakin apakah kita menuju ke arah yang tempat, itulah yang sempat kami alami, beruntung kami tetap maju trus, dan akhirnya ketemu juga papan petunjuk yang menunjukkan ke arah Kampung Sampiren, setelah belok kiri dan Sampirenmasuk beberapa meter, akhirnya kami sampai juga.
Pertama kali sampai, sajian alam yang pertama kali ditawarkan adalah pemandangan sebuah danau dengan rumah-rumah berdinding bambung yang menjorok di atas danau begitu kita sampai di lobinya. Ruangan yang ada di sini, didominasi oleh bambu dan kayu. Setelah mampir ke resepsionis yang ada, dan menanyakan harga kamar yang ada, serta fasilitasnya, dengan harga rata-rata sekitar 1,3 jt utk per malam (weekend), kami pun segera menuju ke Seruling Bambu restoran, untuk memesan makan siang kami, waktu saat itu telah menunjukkan jam 15.00 wib :) wuii laper oiii.
Sambil pesanan kami dibuatkan, kami pun sempatkan untuk berkeliling, melihat sekitar Kampung Sampiren, kebetulan pas kami sampai di sana, ada perusahaan yang sedang mengadakan outing/gathering dan sedang ada berbagai perlombaan yang diadakan (weuiii asyiknya, kapan ya hehehee).
Setelah puas menikmati suasana alam yang ada di sana, gua dan istri pun balik ke restoran, tapi ternyata pesanan kami blum juga datang, padahal udah hampir 30 menit. Ehmm… perut yg tadinya laper sekarang jadi kenyang, tapi makanan yang dipesan blum juga nongol hikss :(, setelah 2 kali menanyakan ke petugas yang ada, akhirnya datang juga pesanan yang kami pesan, kami memesan menu Ayam Bakar dan Soto. Dari harga yang ada termasuk lumayan murah, ayam bakar 2 potong sekitar 25 ribuan, dan dari segi rasa juga ok lah :)
Setelah perut kami kenyang, kami pun lanjutkan untuk melihat fasilitas lainnya di tempat ini, kami sempat melihat tempat Spanya, main dengan ikan yang ada di danau (ikan-ikannya jinak2 :)) serta jalan-jalan di seputar area tersebut. Setelah puas, kami lanjutkan perjalanan kami.

Di SampirenSetelah dari Kampung Sampiren ini, kami sebenarnya ingin menuju ke Kampung Naga, tetapi dikarenakan hari sudah sore menjelang malam, akhirnya kami tidak jadi, dan kami pun lanjutkan untuk mencari tempat penginapan/hotel. Kali ini dengan tujuan ke kota Garut, kami pingin menikmati malam di kota Garut ini, setelah kurang lebih 40 menitan, mutar-mutar di kota Garut (weiii ternyata susah juga, kalo ga tau jalan di kota Garut, soalnya banyak perempatan yg buat bingung), hotel yang kami cari pun belum ketemu yang ok, dan hari pun beranjak malam. Akhirnya kami sepakat untuk lanjutan saja ke kota Tasikmalaya, kami akan nginap di sana, dan besok pagi baru balik lagi ke arah Garut untuk menuju Kampung Naga. Setelah gua mengontak teman-teman di Garut (Merry dan Handi) untuk menanyakan referensi hotel-hotel di Tasik, kami pun segera menuju ke Tasik.
Sepanjang perjalanan Garut ke Tasik, jalan yang ada lumayan berkelok-kelok serta berbukit-bukit dan berjurang yang cukup membuat kepala pusing, sambil menyetir pikiran gua cuma dipenuhi rasa was-was, karna kondisi bensin yang ada sudah mulai menipis hampir menyentuh tanda E, dan lagi pas ada pom bensin, g kelewatan lagi, dengan rasa was-was dan berdoa, g pacu kendaraan sambil berhati-hati karna lampu mobil dari arah berlawanan lumayan membuat silau mata gua. Akhirnya Tuhan itu baik, kita ketemu juga Pom Bensin lagi, dan segera mobilku diisi dengan bensin hingga full :D lega sudah rasanya, dan setlah menanyakan ke petugas pom bensin yang ada, katanya ke arah Tasik bisa sekitar 1,5 jam lagi, weiii lama banget, padahal kata Mega cuma 1 jam aja, Garut ke Tasik…, mana hari semakin malam, kurang lebih waktu sudah menunjukkan jam 20.00 wib. Akhirnya setelah mengisi bensin, perjalanan kami lanjutkan, dan dalam perjalanan menuju Tasik, kami melewati Kota Singaparna, dan di jalan raya tersebut, kami akhirnya sepakat untuk menginap di Hotel Dewi Astri, dengan harga yang lumayan murah, hanya Rp 175.000 per kamar, sudah termasuk breakfast dengan roti. Dan setelah kami melihat kondisi kamar yang ada, serta kamar mandi yang bersih, akhirnya kami sepakat untuk nginap di hotel tersebut, dengan memesan 2 kamar connecting.
 
Dewi Asri Hotel
Hotel Dewi AsriSetelah petugas membawa kami ke kamar yang kami pesan, kami pun segera mandi kemudian bersiap-siap untuk makan malam. Awalnya kami berencana untuk ke kota Singaparna untuk mencari makan, tetapi karna hari sudah malam, dan harga makanan di hotel juga tidak mahal, satu piring Nasi Goreng cuma Rp 15.000,-. Kami pun sepakat untuk pesan makan di hotel tersebut, setelah kami makan, nonton tv sebentar, trus kami semua tertidur pulas hingga pagi, maklum sudah 12-an kami di jalan.
Keesokan paginya begitu kami bangun, kami baru menemukan bahwa ternyata hotel kamiDepan Kamar Hotel Dewi Asri nginap benar-benar bagus, pagi ini terlihat jelas kondisi hotel yang, di belakangnya terdapat kolam pemancingan ikan, lingkungan dan suasana di hotel juga dipenuhi dengan tamanan bunga…woww bener-bener tidak rugi, dengan hanya Rp 175.000,- kami mendapatkan hotel yang ok, dengan fasilitas AC, TV dan Breakfast serta yang pasti, jaraknya tidak terlalu jauh dengan Kampung Naga yang menjadi tujuan kami berikutnya.
Setelah kami mandi dan sarapan, kami pun melihat-lihat sekeliling hotel dan tak lupa tentunya mengabadikan dengan kamera digital, semua pasang posisi siapp…. kamera action hehehehe.
Tipe Lain Kamar Dewi AsriKami pun check out dari hotel, dan perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Kampung Naga, sepanjang perjalanan kami ke Kampung Naga, kami melewati kota Singaparna, dan ternyata saat itu di sana ada lagi ada karnaval dalam rangka 17-an, waw…moment yang jarang kita temui di jakarta, yg mungkin ada di Jakarta biasanya ada rombongan orang berdemo, tapi di sini kami temukan karnaval, dimulai dari anak-anak sekolah, hingga beberapa waria pun turut tampil dalam karnaval kali ini.

Kampung Naga
Kampung NagaAkhirnya kami sampai juga di jalan raya antara Garut dan Tasikmalaya, dimana lokasi Kampung Naga terdapat. Begitu kami tiba di sana, sudah tersedia area parkir kendaraan, setelah kami parkir, kami pun dihadiri oleh seorang bapak, yang menanyakan apakah kami akan ke Kampung Naga, kami langsung jawab iya, dan bapak tersebut menerangkan bahwa kampung tersebut mempunyai beberapa tradisi, dan sebaiknya kalo mau berkunjung ke sana, baik itu wisatawan lokal maupun turis manca negara, sebaiknya ditemanin oleh guide yang ada, setelah menanyakan tentang fee yang harus kami bayar, dan dijawab terserah berapa saja, kami pun segera melanjutkan perjalanan wisata ke Kampung Naga sambil ditemani bapak guide ini, yang asyik menerangkan sejarah Kampung Naga ini.

Sawah di Kampung NagaKampung Naga ini merupakan suatu perkampungan tradisional dengan luas kurang lebih 4 ha, yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Lokasi Kampung Naga ini terletak di lembah, yang dibatasi oleh hutan serta sawah-sawah dan sungai Ciwulan. Untuk menuju ke Kampung Naga ini, kita harus melewati tangga yang sudah ditembok sepanjang 500 meter sampai ketepi sungai Ciwulan dengan rata-rata kemiringan sekitar 45 derajat (wuiii bisa dibayangin, turunnya ok, begitu naik hehehheh capek boo).
Begitu kita menapaki anak tangga teratas,kita sudah bisa lihat sebuah perkampungan di bawah yang di kelilingin oleh hutan serta sawah-sawah penduduk, serta ada aliran air sungai Ciwulan, begitu asri dan alaminya, setelah sampai di tengah anak tangga pas di tikungan, kita akan menemukan seorang pelukis sedang menjual lukisan pemandangan kampung naga. Lukisan kali ini berbeda dengan lainnya, karna yang lukisan ini menggunakan jari tangan untuk melukisnya…ehm…bener-bener bakat seni yang ok, dan harga yang ditawarkan juga lumayan murah, lukisan dgn ukuran 3R dijual Rp 3000,-. Setelah asyik melihat lukisan yang ada, kami pun melanjutkan perjalanan, setelah selesai menapaki anak tangga yang ada, saat mata memandang, sekeliling kami dipenuhi dengan pemandangan hijau, wooww indahnya. Perjalanan pun dilanjutkan dengan jalan tanah setapak. Hal yang menarik dari Kampung Naga ini terletak pada kehidupan yang unik dari komunitasnya, yakni antara lain:
1. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama islam, tetapi masih kuat memelihara ada istiadat leluhurnya.
2. Bentuk bangunan di Kampung Naga, baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi semuanya sama.
3. Bangunan yang ada terdiri, atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa atau injuk sebagai penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan yang ada menghadap ke arah Utara atau Selatan.
4. Tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gaya arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga ini.
5. Antara satu rumah dengan rumah lainnya terlihat sangat berdekatan, hanya sekitar tiga langkah kaki.
6. Belum adanya penerangan listrik, dan untuk penerangan penduduk menggunakan lampu petromaks.
Tangga Menuju Kampung NagaBegitu beberapa informasi yang kami dapatkan dari bapak guide yang mengantar kami mengelilingi Kampung Naga ini, selain itu kami juga diajak berkunjung ke rumah beliau, melihat dapur, serta duduk-duduk di ruang tamunya, dimana lantainya terbuat dari anyaman bambu…ehmmm betul-betul pengalaman yang tak terlupakan, setelah puas merayakan suasana dalam rumah, kami pun selanjutnya dibawah melihat sourvenir-sourvenir yang dijual. Ternyata di sana terdapat beberapa rumah yang menjual sourvenir yang terbuat dari ayaman bambu dan bahan bambu serta kayu. Ada banyak sekali sourvenir yang ada. Kami pun membeli beberapa souvenir yang kami butuhkan.
Selain itu kami diajak juga melihat kegiatan menumbuk pagi, yang merupakan kegiatan ritual setiap hari warga Kampung Naga ini, ehm…iseng-iseng, Lyly (istriku) dan Mega pun mencoba untuk menumbuk pagi, kata mereka berat juga tongkat yg dipakai, tetapi penduduk disana, sepertinya tidak merasakan itu hehehehe :D
Saat kami di sana, kami pun bertemu dengan rombongan anak-anak TK serta guru2 yang sedang melakukan wisata ke sana, ehmm langkah yang bagus dan cukup kreatif dari para guru-guru dalam memperkenalkan lingkungan perkampungan dan wisata budaya ke anak-anak didiknya.
Penjualan SourvenirSetelah puas, akhirnya kami pun segera pamit dan menuju ke tempat kendaraan kami diparkir, dan proses untuk ke sana, merupakan hal yang lumayan berat dan menguras tenaga kami, karna kami harus berjalan menanjak sejauh 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat.wawww capeknya …… but finally sampai juga diatas, dan langsung saja kami beli minuman dan greg…greg… rasa haus dan lelah pun segera hilang, saat air dingin masuk ke tenggorokan kami. Tapi kami semua sangat puas dan pingin rasanya kembali lagi ke sana.
Total biaya yang dikeluarkan untuk wisata ke sana adalah:
1. Biaya tour guide : Rp 50.000
2. Restribusi Parkir : Rp 6.000

Tasikmalaya
Tempat MakanSetelah puas berkeliling di Kampung Naga, akhirnya kami sudahi juga acara di sana, trus selanjutnya bertolak ke Tasikmalaya, untuk makan siang disana, sebelumnya gua kontak dulu temanku di sana, yakni Handi, agar dia bisa bawa kita makan makanan yg enak di sana. Akhirnya sekitar jam 12.00 wib kami tiba juga di kota Tasikmalaya. Setelah janjian ketemuan di dekat ATM BCA, kami pun akhirnya segera meluncur ke tempat makan, Handi & Istri membawa kami untuk mencoba Nasi Bakar, akses ke sana lumayan juga, karna melewati jalan-jalan kecil (ehm…kalo kami sendiri mgkn ga ketemu kali hehehehe). Kira-kira 30 menit perjalanan, sampai juga kami di tempat Nasi Bakar. Segera kami pesan nasi bakar yg menjadi ciri khas rumah makan tsb, sambil menunggu makanan kami diantar, kami saling bercerita satu sama lain, gua dan istri saling memberi selamat kepada Handi & istri yang barusan married juga. Akhirnya makanan kami tiba, Nasi Bakar ini pun kami makan dengan lahap, maklum perut ini sudah laper banget heheheheh.
Ada satu kejadian lucu di sana, setelah kami makan, salah satu teman kami, Deli membuat kami terkejut, dia tiba-tiba menunjuk ke arah kolam tempat ikan mas berada, dan bilang ke pemilik warung makan tersebut. “Pak, ikannya mati, ikan besarnya mati!”. Kontan itu menarik perhatian kami ber-6 yg sedang duduk,termasuk bapak pemilik warung, dengan santainya si pemilik warung menghampiri ke kolam, dan tangannya dimasukkan ke dalam kolam, dan digerak-gerakin, eh…ikan yg tadi diam itu jalan lagi….dan bapaknya bilang, ikannya sedang tidur… kontan saja kami semua pun tertawa….hehehhee :) ada2 aja, ikan tidur2x siang :)
Setelah selesai makan kami pun akhirnya berpisah, tak lupa ucapan terima kasih kepada Handi dan istri yang telah mau mengantar kami untuk mencoba makanan di kota Tasik ini, tujuan kami selanjutnya adalah perjalanan pulang ke Jakarta, lewat kota Bandung.

Raja Polah
Selepas makan siang, kami meninggalkan kota Taksi, dan sekarang kami ingin menuju ke Raja Polah, yang terkenal dengan oleh-oleh dari Tasik ini, sesampai di sana, kami segera berkeliling, dari satu kiosk ke kiosk lainnya, melihat aneka kerajinan tangan yang terbuat dari anyaman bambu…. segera kami beli oleh-oleh yang ada. Setelah puas kami pun segera berangkat ke arah Bandung…., dalam perjalanan pulang ini, kami mampir di kota Bandung untuk makan malam di Pasir Kaliki Hypersquare, setelah kenyang kami pun lanjutkan perjalanan balik ke Jakarta, tapi sebelumnya kami sempat mampir untuk beli oleh-oleh Bakpau Chikyen dan Yogurt Odise.

Akhirnya sekitar jam 10 malam, kami sampai juga di kota Jakarta…, dan setelah mengantar teman-teman pulang ke tempat masing-masing, gua dan istri pun sampai di Apartemen tercinta, n segera istirahat hmmmm badan ini terasa capek banget…, tapi kami puas banget dengan perjalanan 2 hari ini di Garut & sekitarnya…. next trip apa ya ….ehmm tunggu aja :)

Foto selengkapnya bisa diakses di sini

3 Comments to “Wisata Kuliner Garut – Part II (Selesai)”

  • Garut itu indah ya om…:grin:
    saya seneng karena sebagai warga asli garut, mendengar pengalaman anda yg udah meluangkan waktunya guna menikmati keindahan alam, dan juga kekayaan budaya asli yg udah banyak ditinggalkan oleh generasi muda kita, semoga anda bisa kasih tau kepada yg lain tentang semuanya ini……..
    trims

  • Jadi pengen ke Garut nich. Kebetulan awal juli 09 mau ke Pangandaran, biasanya sih lewat Ciawi – Malangbong

  • Bagus…banyak informasi yang berguna banget untuk referensi, jadi kepikiran pingin ke kampung naga… makasi banget dah sharing:smile:

Post comment

*

Instagram

Who's Online

3 visitors online now
1 guests, 2 bots, 0 members

Google Translator

    Translate to:

Recent Comments

Categories

Archives