Wisat Kuliner Garut – Part I

Libur telah tiba…Libur telah tiba… ya itulah sepenggal lagu anak-anak dulu yang menyambut liburan.
Ya betul libur panjang 3 hari dalam rangka memperingati HUT RI ke-62 tahun ini jatuh pada hari Jumat, yang berarti long weekend. Beberapa hari sebelumnya, gua n istri sudah membuat planning untuk mengisi liburan kali ini dengan keluar kota … soalnya bosen juga di jakarta trus n pingin ganti suasana juga.

Berbagai tawaran pun datang saat kami menyiapkan liburan kali ini, yakni:

  1. Teman istriku (Lina) dari Bandung, menawarkan untuk ke Carita, karna kakaknya menyewa cottage di sana
  2. Lina juga menawarkan untuk meminjamkan villanya di puncak, jika kami tidak mau ikut ke Carita
  3. Kami berwisata kuliner ke Garut dan sekitarnya, dengan tujuan utama kami ingin melihat Kampung Naga yang banyak dibicarakan orang.

Akhirnya satu hari sebelum hari H, kami putusin untuk wisata kuliner ke Garut dan sekitarnya, karna kami belum pernah ke sana sebelumnya. Btw thanks untuk Lina yg sudah menawarkan utk join di Carita serta telah mau meminjamkan villanya, tapi kali ini kami lebih tergoda n tertarik untuk berwisata kuliner ria ke Garut dan sekitarnya hehehehe :)

Peta Wisata GarutSetelah sempat terjadi beberapa kali pergantian personil untuk wisata kuliner kali ini, akhirnya terpilih juga kami ber-5 yakni gua dan istri, Lisa (my sister), Deli dan Mega (teman komsel) utk memulai perjalanan kali ini.
Walaupun malam sebelumnya gua baru tidur jam 03.00 wib karna ada pekerjaan kantor yg mesti dikerjakan, pagi itu akhirnya kita berangkat juga jam 08.00 wib, telat 1 jam dari yg direncanakan sebelumnya. Sepanjang perjalanan, jalanan yang ada lumayan lancar, hanya sempat terjadi kepadatan di ruas tol dalam kota saja, namun setelah melewati gerbang tol cibubur perjalanan kami pun praktis lancar, tanpa hambatan.

Perjalanan kali ini agak istimewa, karena tidak seperti biasanya, kami sama sekali tidak menentukan akan nginap di mana, jadi kami hanya jalan dan enjoy aja, kalo capek baru nanti cari tempat peristirahatan (hmmm nekat juga sebenarnya, karna ini kan libur panjang, takutnya hotel-hotel penuh).

CANDI CANGKUANG
Kurang lebih jam 12.30 wib kami pun memasuki daerah Garut setelah menempuh kurang lebih 3,5 jam perjalanan dari Jakarta, dan tujuan pertama kami adalah ke Candi Cangkuang.
Pulau Tempat Candi CangkuangDaerah Candi Cangkuang merupakan salah satu obyek wisata di daerah Garut, obyek wisata di daerah ini terdiri dari danau, Kampung Pulo dengan rumah adatnya, dan sebuah bangunan candi pada sebuah “pulau” di tengah danau. Pulau tersebut sebetulnya mirip sebuah semenanjung yang menjorok ke arah timur ke tengah danau. Untuk mencapai lokasi wisata ini, yang terletak kurang lebih 9 km antara jalan raya Garut – Nagrek – Tasik menuju kota Garut ini, kita akan menemukan papan petunjuk ke lokasi tersebut, setelah belok kiri di menuju ke Desa Cangkuang, kita akan melewati jalanan kecil yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat, motor atau delman, kita akan melewati pematang sawah yang ehmm tentunya udaranya segar banget, yang tidak akan kita jumpai di Jakarta :)
RakitSetelah sampai di Desa Cangkuang, perjalanan dapat dilanjutkan menuju obyek wisata dengan naik rakit bambu yang berkapasitas 25 orang untuk menyeberangi danau. Biaya yang dikenakan adalah Rp 3000 utk dewasa dan Rp 2000 utk anak-anak pp, kalo kita mau cepat kita juga bisa menyarter rakit tersebut. Karena kami cuma ber-5 dan waktu kami tidak terlalu banyak, dan pas kami sampai bertepatan dengan sholat jumat maka kami memutuskan untuk menyarter rakit tersebut dengan biaya Rp 50 ribu pp.
Candi Cangkuang terletak pada sebuah “pulau” kecil yang berbentuk memanjang, membujur arah barat-timur dengan luas sekitar 16,5 hektar. Pulau kecil ini terletak di tengah sebuah pulau yang terkenal dengan nama Situ Cangkuang.
Perjalanan menyeberangi danau ini, menuju pulau kecil tempat Candi Cangkuang berada, kurang lebih 10 menit. Sesampai di pulau tersebut, kami langsung melihat bangunan Candi Cangkuang yang ada, bangunan yang kami lihat ini sebenarnya adalah bangunan hasil rekonstruksi tahun 1976. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1967/1968, jumlah batu candi yang ditemukan hanya 35%, sehingga kurang memadai untuk membangun kembali bangunan yang sudah runtuh. Bangunan candi yang ada berbentuk bujur sangkar, di dalam terdapat arca Siwa. Candi Cangkuang ini merupakan salah satu bangunan suci yang dibangun ideal sesuai dengan konsep tata-ruang agama Hindu.
Kampung PuloDi samping itu di pulau ini, selain terdapat Candi Cangkuang, juga dapat ditemukan juga rumah adat Kampung Pulo, yang hanya terdiri dari 6 buah bangunan rumah dari kayu. Kebetulan pas kita tiba di sana, salah satu penduduk di rumah tersebut akan mengadakan acara pernikahan. Setelah puas berkeliling di Candi Cangkuang dan melihat rumah adat di Kampung Pulo, kami pun mampir sebentar untuk melihat tempat penjualan souvernir yang ada, berbagai aneka sourvenir ditawarkan, dari replika Candi cangkuang hingga replika rakit bambu. Udara di tempat ini terasa sejuk, selain karna daratan yang lebih tinggi, di tempat ini juga terdapat banyak pohon-pohon. Ehmm rasanya ga pingin beranjak dari tempat ini.
Karna waktu yang terus berjalan, dan masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi, kami pun segera naik rakit bambu untuk kembali ke Desa Cangkuang, sesampai kami disana, kami sempatkan untuk mencoba kue Bandros yang dijual penduduk di sana, kue Bandros ini kalo di Jakarta dikenal dengan Kue Balok. Setelah itu kami pun meninggalkan Desa Cangkuang ini menuju ke tempat lainnya.
Total biaya yang dikeluarkan untuk wisata di Candi Cangkuang adalah:
– Restribusi Parkir Mobil = Rp 2.000 
– Sewa Rakit Bambu = Rp 50.000
– Kue Bandros = Rp 2.000 (10 biji)
– Biaya Masuk (Rp 2.000 x 5) = Rp 10.000

Foto candi cangkuang yg lain, bisa diakses di sini

Post comment

*

Instagram

Who's Online

3 visitors online now
1 guests, 2 bots, 0 members

Google Translator

    Translate to:

Recent Comments

Categories

Archives